Sepanjang kehidupan kita, ujian &
cobaan datang silih berganti karena makna kehidupan itu sendiri adalah
bagaimana menghadapinya. Ujian & cobaan kehidupan adalah tantangan yang
akan memilah mana orang yang tahan uji dan mana orang yang lemah, Mana orang
yang beriman dan mana orang tidak beriman. Bagi seorang mukmin kehidupan akan
selalu mendatangkan keberuntungan karena ia bersyukur ketika memperoleh nikmat
dan bersabar ketika menghadapi kesulitan. Sebaliknya orang tak beriman selalu
tak beruntung, ketika memperoleh nikmat ia lupa diri dan ketika menghadapi
kesulitan berat ia lupa ingatan. Sabar ialah tabah hati tanpa mengeluh dalam
menghadapi cobaan dan rintangan, dalam jangka waktu tertentu, dalam rangka mencapai
tujuan. Islam mengajarkan bersabar itu indah.
Jumat, 04 Mei 2012
Selasa, 24 April 2012
Tuntunan Nabi Dalam Memilih Pasangan
Wanita itu dinikahi karena empat
pertimbangan, kekayaannya, nasabnya, kecantikannya dan agamanya. Pilihlah
wanita yang beragama niscaya kalian beruntung. (H.R. Bukhari dan Muslim dari
Abu Hurairah) Dalam hadist tersebut Nabi Muhamad Shalallahu Alaihi wa Salam
memberikan tuntunan kepada kita agar memilih pasangan yang memiliki agama, maka
kalian akan beruntung, fadzfar bizatiddin, taribat yadaka. Hadis itu tidak
menyebut fadzfar mutadayyinatan (orang beragama) tetapi bidzatiddin, orang yang
memiliki agama. Kata dzatiddin disini mengandung arti substansi (jauhar) atau
sifat (ardl) , jadi wanita atau pria yang dzatiddin adalah orang yang beragama
secara substansial atau dapat dilihat sifat-sifatnya sebagai orang yang
mematuhi agama
Lalu apa substansi agama itu? secara vertikal orang yang memilih agama itu mengimani, meyakini sepenuhnya adanya Allah Sang Pencipta Yang Maha besar, Maha Adil, Maha Pemurah, Maha Pengampun, oleh karena itu sebagai manusia dan juga hamba Allah, ia tidak sanggup untuk sombong & sewenang-wenang. Secara horizontal orang yang beragama secara substansial akan berusaha secara maksimal menjadikan dirinya memberikan kemanfaatan maksimal kepada sesama karena tahu fungsi dan peran dirinya adalah pengejawantahan kasih sayang Allah bagi semesta alam.
Lalu apa substansi agama itu? secara vertikal orang yang memilih agama itu mengimani, meyakini sepenuhnya adanya Allah Sang Pencipta Yang Maha besar, Maha Adil, Maha Pemurah, Maha Pengampun, oleh karena itu sebagai manusia dan juga hamba Allah, ia tidak sanggup untuk sombong & sewenang-wenang. Secara horizontal orang yang beragama secara substansial akan berusaha secara maksimal menjadikan dirinya memberikan kemanfaatan maksimal kepada sesama karena tahu fungsi dan peran dirinya adalah pengejawantahan kasih sayang Allah bagi semesta alam.
Kamis, 02 Februari 2012
Jiwa Berdimensi Malaikat [ Seri Kesaktian Muslim ]
Jiwa berdimensi malaikat seperti ini seakan gak menetap ditanah, tapi selalu dari langit dan jiwanya seperti melayang diatas dunia. Itulah kesadaran bahwa dunia adalah cuman permainan. Tetapi kalau jiwa ini di bumi, melekat ditanah, akibatnya kesadarannya seringkali tumpul karena yang diliat dunia adalah segalanya, yang diliat cuma kekiri, ke kanan, kebawah jika kedapatan masalah. Masalah itu menerpa karena gak bisa menyadari bahwa inilah dunia, yang hakekatnya gak pernah ngasih apa-apa. Hakikat terlalu berorientasi dunia, hantaman penyakit pusing, stress, dengki melabrak kehidupannya sehari-hari karena dunia yang dikejarnya, dijadikan tumpuan jawabannya, gak pernah memberi solusi hakiki.
Jiwa langitan selalu ikhlas dan Ridho, soal ikhtiar tetap dikejar dalam semangat ibadah. Kesegaran Jiwanya dibangun dengan dasar pengenalannya terhadap Allah SWT, dengan cara mengenalinya dengan benar. Keyakinan-Nya kukuh karena minum vitamin-vitamin ilmu2 ulama, ustadz, kyai yang benar juga, bukan ulama2 bikinan barat yang kerjanya mengacau dan bikin sesat.
Ngapain ikhlas?, apa hebatnya?. bahasanya bakal kering kalau di hadapkan kepada orang2 yang kelamaan menjadikan dunia untuk format dikepalanya sama jidatnya.
Yg Ini Jelas hebat, karena yg dikejar cuma Allah. Allah yg maha hebat. Bahasa ini hebat jika si pendengar sering tafakur, merenungi kebesaran-Nya, mendalami sunnah2 Rasul-Nya. Hatinya juga menerima kebenaran. Kebenaran yg Haq yang gak tumpul sama kesombongan hati, sombong karena terlalu banyak menerima input dunia dibanding input akhirat.
Allah yang paling hebat, yg dicari cuma Allah. Apalagi yang lebih baik dari itu?. Dunia, kerjaan, orang tua, kerabat, segala makanan, kesehatan, untung dan rugi semuanya di tangan Allah. Nyari yg lain walaupun dapat, apa hasilnya ?...Sirna tertelan waktu.
Langganan:
Postingan (Atom)